2 Komentar

Challenge Your Self (Bagian 2)

Posting berikut ini merupakan lanjutan dari posting sebelumnya.

Semangat dan gairah di pekerjaan laksana musim yang silih berganti. Satu masa bersemangat sepuluh November, tapi kali lain memble dan pekerjaan yang biasanya memantik passion tiba-tiba tampak membosankan. Hal yang lumrah sebenarnya, tetapi menjadi tidak lumrah kalau memblenya terlalu lama apalagi sampai berlarut-larut.

Kesempatan dalam masa deklinasi semangat ini tetapi bisa disiasati dengan satu resep mujarab berikut ini, challenge your self. Prinsip utama challenge your self adalah menyibukkan diri sendiri dengan hal-hal yang akan membuat Anda bersinar. Bahkan tetap bersinar di segala musim. Berikut hal-hal yang dapat dilakukan untuk mempersingkat masa deklinasi semangat ini.

Pertama, tetapkan hal dari diri Anda yang ingin Anda gosok untuk dicemerlangkan. Kompetensi apa yang ingin Anda asah sehingga membuat performance Anda makin kinclong. Sisi leadership mana pada diri Anda yang Anda ingin pancarkan. Anda dapat menelusuri kembali modul pelatihan yang pernah Anda dapatkan atau menggali kesuksesan Anda selama ini. Baca juga http://strategimanajemen.net/2011/03/07/4-rahasia-yang-akan-membawa-kita-pada-the-joy-of-success/.

Kedua, temukan cara terbaik yang dapat Anda lakukan.  Untuk mengembangkan sisi itu diperlukan cara-cara yang reliable. Apakah dengan mengikuti pelatihan yang terbaru pada bidang yang Anda minati. Atau menemukan seorang yang telah lebih dulu mengasahnya dibandingkan Anda. bertemu dan membicarakan dengan orang yang ahli akan membangkitkan semangat Anda.

Ketiga, tetapkan target. Visualisasikan apa yang anda inginkan. Semakin jelas visualisasi yang Anda buat, semakin jelas target yang Anda inginkan. Anda mematok target bagi diri Anda sendiri, so, kedisiplinan Anda akan sangat membantu Anda. tetapkan waktu yang Anda perlukan. Kalau perlu, buatlah jadwalnya. Tetapi pastikan jadwalnya reliable.

Keempat, tetapkan kondisi yang akan Anda capai. Bila Anda ingin mengasah kemampuan presentasi Anda, tentukan poin-poin penting yang bila poin ini tercapai, menunjukkan bahwa Anda berhasil.

Kelima, pastikan kompetensi yang akan Anda asah ini berjalan seiring dengan pekerjaan yang sedang Anda tangani. Sembari mengerjakan pekerjaan harian, Anda dapat menggali potensi diri yang selama ini kurang mendapat perhatian. Anda juga bisa mengembangkan skill yang telah dimiliki, hal ini akan mengantarkan Anda sebagai master dalam bidang yang Anda geluti. Artinya, kompetensi Anda punya masa depan cerah untuk membuat Anda makin bersinar.

Terakhir, berikan perayaan kecil untuk sekecil apapun pencapaian. Perayaan kecil akan membuat Anda merasakan hawa keberhasilan dan ini akan membuat Anda ketagihan untuk sukses dan sukses lagi. Tak apa bila Anda share-kan ‘private project’ Anda ini pada pasangan. Pasangan pasti akan dengan senang hati menemani Anda menjalani masa-masa perjuangan Anda dan merayakan setiap kemenangan Anda.

Selamat berjuang!

Tinggalkan Komentar

Challengen Your Self (Bagian 1)

Indah benar ya bekerja di perusahaan bonafide dengan budaya kerja yang bonafide juga. Perusahaan sudah ternama dan menjadi kumpulan geraknya orang-orang yang aktif bergerak. So pasti perusahaan sekaliber itu menjadi gula manis bagi para semut eksekutif-eksekutif nan potensial. Aneka rupa pengembangan potensi dan kompetensi menjadi makanan yang dilahap bersama project-project yang menantang. Perusahaan rajin memantik keluarnya bakat-bakat dan selama tantangan terbentang dan benefit mengucur, siapa yang tidak betah.
Sayangnya, yang namanya tempat idaman tak selalu diperoleh kebanyakan orang. Ada orang-orang yang belum seberuntung itu. Bertemu kondisi yang tak seindah itu, baik dalam bentuk budaya perusahaan yang masih mencari bentuk, belum rapinya manajemen, program pengembangan yang baru sebatas impian, dan sederet kondisi yang musti minta disikapi dengan penuh kesabaran.
Lebih repot lagi kalau masih ada problem dengan hal-hal teknis maupun strategis. Arah perusahaan yang kurang jelas, tujuan yang belum definitif, target yang hendak dicapai juga nggak jelas, job desc yang masih abu-abu, hingga teamwork yang jalannya terseok-seok. Sempurnalah sudah. Ujung-ujungnya, motivasi intrinsic kita sendiri yang akhirnya ikut-ikutan memble.
Kondisi di atas bagaimana pun juga akan memengaruhi motivasi kerja. Entah dalam bentuk penurunan kinerja, demotivasi, Smart stepnya apa? Pertama, apakah energi kita cukup untuk memengaruhi situasi yang sedang berlangsung. Energi ini bisa dalam bentuk kemampuan interpersonal untuk menciptakan atmosfir yang lebih kondusif dan solutif.

Kedua, adakah kekuasaan yang bisa dimainkan. Artinya posisi yang dimiliki dapat dimaksimalkan untuk menciptakan iklim yang motivasional. Termasuk juga adakah sebentuk ‘kekuasaan’ yang dimiliki untuk memberikan ‘push’ bagi tim (dalam takaran yang proporsional tentunya). Walaupun ini tidak selalu tersedia. Tapi kalau kita punya posisi tawar, mengapa tidak dicoba menghidupkan tim agar lebih bergairah?
Ketiga, adakah partner yang bisa diajak saling membangun semangat. Keberadaan partner sangat penting untuk brain storming. Ide dan gagasan yang cemerlang dengan membicarakannya bersama rekan dapat membantu menggosok ide itu agar semakin cling. Tapi jangan sampai bikin gap ya. Bagaimana pun orientasi dan target bersama tetaplah mesti dijadikan prioritas bersama.
Dari ketiga langkah di atas, tidak ada yang memberikan titik cerah? Amalkan yang keempat ini. Challenge your self. Buatlah tantangan untuk diri anda sendiri. Bagaimana caranya? See the next.
Anda sangat disarankan membaca juga http://strategimanajemen.net/2011/02/21/cara-mudah-membangun-mindset-dan-motivasi-kerja-yang-mak-nyus/

Tinggalkan Komentar

free counters

Tinggalkan Komentar

Pohon dan kita

Kawan, pernahkah engkau menyaksikan sejarah hidup sebatang tanaman? Perhatikanlah bagaimana bunga-bunga tumbuh. Bagaimana pohon-pohon hidup. Bagaimana tunas yang begitu mungil tiba-tiba kau sadari mereka tumbuh menjulang menusuk langit.

Kawan, sebagaimana para tanaman, kita pun sebagaimana mereka. Tumbuhan pernah sekecil tunas, kita peun pernah bayi. Tumbuhan pernah hanya setinggi beberapa sendti dengan daun hanya seukuran jari. Sebagaimana kitapun pernah kanak-kanak. Tumbuhan terus tumbuh, kitapun tak selalu seukuran sepuluh tahun yang lalu.

Dan kini kita menjumpai tanamam-tanaman itu juga berbunga. Melebatkan buahnya. Dipetik dan dinikmati. Sungguh kawan, kita adalah sebagaimana tumbuhan-tumbuhan. Kita juga ada saatnya melewati fase demi fase. Ada masanya kita akan berbunga. Ada masanya ada buah-buah yang kita hasilkan. Ada masanya buah-buah kita dipetik dan dinikmati.

Dan sebagaimana para tumbuhan tumbuh, begitu saja. Melewati waktu dan melampaui semua yang diharuskan dilewati oleh para tumbuhan. Mereka melewati berbagai musim. Mereka melewati angin yang bertiup kencang. Mereka melewati hari-hari di bawah terik matahari. Mereka pun melewati langit yang cerah. Mereka pun mendengar cicit burung. Mereka pun melewati masa tanah yang tidak selalu menjanjikan unsure hara. Mereka juga melewati betapa rindunya curahan hujan. Dengan semua itu mereka tetap tumbuh. Melalui semua fase yang harus dilalui.

Sungguh kawan, adakah kita pun melewati apa yang mereka lewati. Ada masa-masa penuh keceriaan. Ada masa penuh kebimbangan. Ada masa usia sepuluh tahun. Ada masa kita menghitung bintang bersama harapan. Ada masa kita bila ada pilihan, terpuruk di pojok kegelapan pun adalah terasa yang terbaik. Ada masa mendung dan langit cerah. Ada masa musim bahkan tak menjanjikan sepotong harapan pun.

Sungguh kawan, sebagaimana pohon dan kawan-kawan tumbuhannya menapaki semua yang harus mereka jalani, tetap tumbuh dan menapaki takdir dan sunnatullah-Nya, apakah kita punya alasan untuk tidak terus tumbuh?

Wallahua’lam bi shawwab

 

 

 

Gerbang Surabaya, Oktober 2010

Kita selalu punya alasan

Untuk selalu lebih baik

Tinggalkan Komentar

Menjaga Buku Tetap Asyik Dibaca

Jadi book lover emang nikmat. Bahkan om Hernowo saja sampai bilang kalo buku bisa selezat pizza. Lewat huruf-huruf bisa berselancar ke dunia nya Peter Pan, ikut merasakan dunia dalam Lord of The Ring. Merasakan hawa museum lewat Da Vinci Code-nya Dan Brown. Enaknya menjelajah ke jalanan Mesir lewat Ayat-ayat Cinta-nya Habiburrahman El Shirazy. Kayaknya sungai Nil itu emang eksotis banget ya?

Nggak heran kalo buku bagi kutu buku sejati sampai diajak tidur. Kalo tebel, lumayan jadi guling. Kalo di tenteng ke mana-mana bisa buat gaya. “Nih, makanan gue,” he…he… Nah, buat book lover yang cinta mati sama buku, sudah saatnya buku-buku dimuliakan. Simak tipsnya…

1.       Pastikan bukumu terdata dengan baik. Catat seluruh buku dalam catatan yang khusus memuat identitas buku. Kalo punya tulisan pendek, boleh bikin sedikit resensinya.

2.       Sampul yang rapi. Buku secantik apapun, perlu pake baju yang akan melindunginya dari aneka rupa goresan. Minimal pake sampul plastic yang tebel itu lho.

3.       Pakai pembatas buku. Punya buku kelipat-lipat buat tanda halaman yang terakhir dibaca? Yang begini bikin buku cepet kusyut lho. So, tandai halaman terakhir yang dibaca dengan pembatas. Pembatas dari kertas juga cukup.

4.       Atur yang rapi di rak. Lebih bagus lagi kalo kita punya rak khusus buat buku. Tata yang baik sehingga kalo kita butuh sebuah buku, nggak pusing nyarinya. Pastikan buku berdiri dengan baik dan menghadap ke arah yang sama.

5.       Sediakan buku besar peminjaman. Khusus kalo kita emang memperbolehkan orang lain meminjam buku kita. Jeleknya, kadang si peminjam lupa ngembalikan. Celakanya lagi, kitanya juga nggak inget itu buku dipinjem sama siapa. So, penting punya buku peminjaman. Kalo ada buku kok nggak pulang-pulang ke rak-nya, boleh kita cek siapa tersangkanya.

6.       Diangin-anginkan. Sebagaimana kita, buku juga perlu bernafas. Secara berkala, keluarkan buku-buku ke udara bebas yang tidak terkena matahari langsung. Biar ngengat-ngengat terusik lalu hengkang dari sela-sela harta kita yang satu ini.

7.       Sediakan anti ngengat di sela-sela rak agar binatang-binatang yang usil nggak betah di situ.

Oke, met sayang-sayang sama buku…

Tinggalkan Komentar

Dewasa, pilihan atau keniscayaan

Pernahkah Anda melihat orang yang bersikap kekanak-kanakan, padahal secara fisik, jelas tidak bisa dikatakan kanak-kanak.

Dewasa mempunyai banyak makna. Dewasa berarti tidak kekanak-kanakan. Dewasa juga bisa berarti mampu menempatkan diri, mampu membaca situasi dan bersikap sebagaimana semestinya. Bisa juga dewasa itu mampu mengalahkan diri sendiri. Ada orang yang mengartikan dewasa itu mampu menyelesaikan masalah. Ada juga orang yang berpikir dewasa itu mampu menanggung pertanggungjawaban. Dan entah apalagi.

Manusia, sepanjang hidupnya adalah proses. Awalnya ia tak tahu menjadi tahu. Ada pertambahan pengetahuan dari waktu ke waktu. Seiring kapasitas berpikirnya yang bertambah, zona jangkauan berpikirnya pun bertambah.

Sewaktu kanak-kanak yang kita ketahui bahwa es krim itu lezat. Jika menginginkannya, cukup meminta pada orang tua. Satu kali, orang tua langsung mengabulkan. Lain waktu, dengan lembut ibu berkata, “Es krimnya nggak hari ini ya. Adek kan lagi demam.” Tahulah kita, selama demam tak boleh minum es krim. Lain waktu, tidak demam kita menginginkan es krim lagi. Tapi ibu bilang, “Es Krimnya nggak hari ini ya. Ayah belum gajian. Jadi, ibu tak ada uang untuk beli es krim”. Tahulah kita ternyata, selain tidak demam, untuk mendapatkan es krim kita memerlukan sejumlah uang untuk membelinya. Dan begitu seterusnya. Selalu ada pertambahan pengetahuan yang menghampiri kita yang membuat otak kita memproses setiap kejadian.

Kejadian-kejadian yang kita lalui membentuk bagaimana pikiran kita semakin berkembang. Zona jangkauan berpikir kita semakin meluas. Otak mulai mengerti bahwa tidak selalu yang terucap, begitulah yang dimaksud. Di atas permukaan yang tampak, ada kedalaman yang tidak tampak. Mengertilah kita, untuk memahaminya kita perlu surface thinking dan deep thinking. Di lain sisi, ada situasi yang perlu kita jeli menlihatnya, menelisik lebih dalam untuk memahami maksudnya, dan tentu saja perlu dipikirkan bagaimana menyikapinya.

Itu semua, jelas memerlukan proses. Perlu pembiasaan untuk mengasah kebiasaan menyikapi  positif segala situasi, kemampuan menata jiwanya, mengerti tentang keseimbangan hidup, menata mimpinya, mengendalikan semangatnya, mengerti kebutuhan-kebutuhannya sekaligus bagaimana memenuhinya, mengontrol emosi, dan seterusnya.

Terlepas dari proses yang terus berjalan, terlepas dari proses yang kita lalui, ada yang perlu kita renungkan. Adakah kita bersedia untuk terus berproses dan terus berproses. Proses bukanlah sebuah materi atau energi. Lebih merupakan katalisator. Proses memerlukan waktu, materi, dan energi. Tidak ada yang jelas mengatakan batasan sebuah proses. Proses akan berlangsung terus, terus, dan terus.

Seperti belajar. Orang perlu mengawalinya dari level primary. Selesai, dilanjutkan elementary, bahkan mereka yang telah mencapai level advance pun harus selalu meng-up date pengetahuannya. Itulah barangkali mengapa setiap orang mengatakan ‘saya sudah tahu’ saat itulah ia menjadi bodoh. Bisa jadi si fulan memang telah mengetahui pengetahuan itu, tapi bukankah kita tak hanya belajar tentang pengetahuan? Bukankah kita juga mesti belajar mengembangkan, aplikasinya, kendala yang mungkin muncul, dan seterusnya?

Lebih dari itu semua? Bila kedewasaan adalah sebuah proses, maukah kita dewasa? Kadangkala tak lagi pilihan. Melainkan keniscayaan. Pilu orang melihat orang gede berlaku kekanak-kanakan.

Surabaya, 25 Juni 2010

1 Komentar

karena hidup tidak begitu-begitu saja

Life is never flat.

Begitu kata orang. Tapi tidak jarang orang justru menyanggah, “Ah, nggak juga. Hidupku flat semua. Datar, nggak pake bukit-bukit segala”

Oke-lah, ditampung dulu. Hidup datar-datar saja? mungkin. Paling tidak saat ini terasa demikian. Mungkin banyak hal, peristiwa, rasa, makna, dan segala sesuatu terasa biasa saja. warna-warna juga tidak memberi kesan apa-apa. Kadang saat-saat yang seperti itu memang terjadi pada kita.

Hal yang barangkali perlu kita ingat adalah sepanjang hari ini adakah hal-hal yang tidak terduga terjadi pada kita? Adakah sesuatu terjadi tanpa kita rencanakan sebelumnya? Jangankan direncanakan terpikirkan saja tidak.

Misalnya begini. Adakah hari ini telah terjadi sesuatu yang tak terduga? Misalnya, mau berangkat ke kantor, tahu-tahu busi motor minta diganti. Cemberut itu busi. Ga mau memercikkan api sedikit jua. Hasilnya? Mana mau motor jalan kalo nggak ada pengapian. Api kecil yang cuma percikan itu, nggak mau muncul. Asli ini bikin hangus ubun-ubun.

Yach, kejadian macam itulah yang memberi kejutan tak terduga. Dan sesungguhnya itulah yang menjadikan kita bisa mengatakan, life is never flat. Itu baru kejadian kecil. Tidak banyak memberi pengaruh pada rentang kehidupan kita.Mari kita kategorikan kejadian busi ngadat di atas sebagai kejadian kecil. Ada kejadian yang lebih besar lagi.

Suatu ketika, di Jalan A. Yani Surabaya yang selalu macet itu, saat matahari mulai condong ke barat, jalanan yang sudah biasa macet itu bertambah macet. Mayoritas jam kerja kantoran di Surabaya berakhir pukul 16.00. Mobil, motor, angkutan umum tumpah ruah berebut jalan. Tak ada siapa yang rela minggir untuk memberi jalan bagi pengguna jalan yang lain. Selamat sampai tiba di rumah, adalah motto yang tak perlu diikrarkan oleh semua pengguna jalan hari itu. Kalau mau selamat, ga usah bikin gara-gara.

Semua orang berhati-hati. Entah karena apa, tiba-tiba sebuah motor menyenggol motor sebelahnya. Salah satu motor hampir ambruk. Belum lagi sampai menyentuh aspal, si motor tertendang oleh si mobil yang berada di belakangnya. Sopir mobil itu terlalu terkejut dengan kejadian di depannya. bukannya injak rem, malah injak gas. Jadilah si motor yang nahas itu terpelanting sampai ke pembatas jalan. Motornya memang kasihan. Pengendara motor itu lebih kasihan lagi. Lukanya dimana-mana. Seorang pengguna jalan berhenti. Rupanya ia seorang dokter. Saking pinternya dokter itu, melihat kaki kanan si korban saja dokter itu tahu terjadi sesuatu yang mengerikan pada kaki kanan si pengguna motor.

Tidak usah dibayangkan. Kejadian itu mayoritas membekaskan sesuatu bagi si orang. Misalnya, trauma. Umumnya, trauma memerlukan sekian waktu untuk sembuh. Luka fisik juga memerlukan waktu yang relatif untuk sembuh.

Dari dua kejadian di atas, perkara busi ngadat, kemungkinan besar akan cepat terlupakan. Yang kita ingat mungkin hanya bahwa kita pernah mengalami kejadian itu. Lain halnya, dengan kejadian kecelakaan di Jalan A. Yani. Dapat dipastikan, kejadian seperti ini pasti akan terekam dengan baik di benak si orang. Mungkin suatu kali ia akan menceritakan kejadian ini kepada orang lain, lengkap dengan tanggal kejadian, lokasi tepatnya, saat itu pakai baju apa, dirawat di rumah sakit mana, sembuh berapa lama, dan detil lainnya. Mengapa dua kejadian itu memberikan jejak memori yang berbeda? Karena dua kejadian itu memberikan kesan psikologis yang berbeda.

Namun demikian, kadangkala kejadian yang ‘seharusnya’ memberikan jejak psikologis, justru tidak demikian halnya. Terjadi, ya begitu sajaterjadi. Tidak memberi kesan apa-apa. Datar-datar saja. Seperti kejadian HP lupa tidak terbawa atau dompet ketinggalan di rumah. Begitu saja.

Sepenting apapun kejadian, serumit apa juga nggak akan memberikan jejak psikologis atau kesan tertentu kalau kita tidak memberikannya. Apalagi memaknainya. Bukan kejadiannya, tetapi pemaknaan terhadap kejadian. Kejadian remeh busi mogok akan memberikan jejak psikologis yang mendalam manakala kita memberikan kesan mendalam pada kejadian itu. Karena kita memberikan makna pada kejadian itu. Mungkin saja peristiwa kecil itu justru menjadi ttitik balik kehidupan kita. So, jangan anggap remeh setiap kejadian, sekecil apapun. krena memang life is never flat…

Surabaya, 12 Sya’ban 1423 H/ 23 Juni 2010

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.